Materi dan Latihan Soal TWK Bahasa Indonesia - CPNS 2027
Assalamu'alaikum semua. Pada kesempatan kali ini saya akan share materi TWK tentang Bahasa Indonesia. Selamat belajar :)
BAHASA INDONESIA
A. Paragraf
Paragraf adalah gabungan beberapa kalimat yang saling berhubungan dan menghasilkan suatu tema tertentu. Paragraf yang baik, setidaknya terdiri dari 2 kalimat atau gagasan. Tapi, umumnya, paragraf terdiri dari empat hingga sepuluh kalimat, tergantung pengembangan gagasan yang diinginkan penulisnya.
Ciri-Ciri Paragraf
- Paragraf mengandung makna, pesan, atau pikiran dari penulis,
- Paragraf dibangun oleh beberapa kalimat yang menghasilkan suatu tema tertentu,
- Kalimat-kalimat dalam paragraf disusun secara logis dan sistematis,
- Paragraf mengandung satu ide pokok dan beberapa kalimat penjelas.
Unsur-Unsur Paragraf
1. Topik atau Gagasan Utama → Ide utama yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Intinya, gagasan utama “layaknya jiwa” yang menghidupkan sebuah paragraf agar menarik di mata pembaca.
2. Kalimat Utama → Kalimat yang berisi gagasan utama, biasanya diletakkan di awal atau akhir paragraf. Kalimat utama bersifat umum dan akan dikembangkan oleh kalimat-kalimat pendukung lainnya. Contoh kalimat utama: “Gunung Merapi adalah salah satu gunung api teraktif di Indonesia.”
3. Kalimat Penjelas atau Kalimat Pendukung → Kalimat yang berfungsi untuk mengembangkan dan memperkuat gagasan yang disampaikan pada kalimat utama. Kalimat penjelas bisa berupa data pelengkap, seperti opini, fakta, atau data yang valid.
4. Konjungsi → Kata sambung atau kata penghubung. Konjungsi dalam bahasa Indonesia ada dua jenis, yaitu konjungsi intrakalimat dan konjungsi antarkalimat. Konjungsi intrakalimat adalah kata sambung yang berfungsi menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, serta klausa dengan klausa dalam satu kalimat. Misalnya, “dan”, “sehingga”, “agar”, “sebelum”, dan lain-lain. Sedangkan konjungsi antarkalimat adalah kata sambung yang menghubungkan antarkalimat dalam satu paragraf. Misalnya, “Jadi”, “Oleh karena itu”, “Namun”.
Jenis-Jenis Paragraf berdasarkan Posisi Kalimat Utama
1. Paragraf Deduktif → Kalimat utamanya terletak pada awal paragraf. Kalimat-kalimat penjelasnya akan berada setelah kalimat utama.
2. Paragraf Induktif → Kalimat utamanya terletak di akhir paragraf. Kalimat penjelasnya tentu saja berada sebelum kalimat utamanya.
3. Paragraf Campuran → Perpaduan antara paragraf deduktif dan induktif. Kalimat utama pada paragraf campuran, berada pada awal paragraf dan diulang kembali pada akhir paragraf.
B. Kalimat Efektif
Kalimat efektif merupakan kalimat yang disusun berdasarkan kaidah kaidah kebahasaan secara baik dan benar (menurut ejaan yang disempurnakan (EYD)). Kalimat dinyatakan efektif apabila setidaknya memiliki unsur subjek dan predikat.
Syarat-Syarat Kalimat Efektif
1. Kesatuan gagasan → Setiap kalimat, baik itu kalimat tunggal atau kalimat majemuk, harus mengandung satu pokok atau satu ide utama saja. Syarat utama kalimat yaitu terdiri seminimalnya satu subjek dan predikat.
- Kalimat tidak bersubjek → Perlu diperhatikan bahwa kata yang diawali dengan kata depan, seperti di, ke, dari, buat, bagi, untuk, kepada, tidak akan pernah menjadi subjek dalam kalimat karena subjek tidak boleh diawali oleh kata depan.
- Kalimat yang tidak ada predikat → Kalimat yang efektif juga harus memiliki predikat di dalamnya. Jika suatu kalimat tidak memiliki predikat, kalimat itu tidak bisa menjelaskan bagaimana atau apa yang sedang dilakukan subjek.
- Pemakaian konjungsi yang tidak tepat → Konjungsi merupakan kategori kata yang berfungsi untuk meluaskan atau menghubungkan dua atau lebih klausa dalam sebuah kalimat.
2. Koherenan → Pengaturan secara rapi terhadap fakta, gagasan, ide maupun kenyataan menjadi satu kesatuan yang logis dan bisa diartikan dengan baik oleh pembacanya. Secara singkat, koherensi merupakan keserasian atau perpaduan makna.
3. Kesejajaran → Terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama jenis katanya, pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai dalam sebuah kalimat. Misalnya dalam sebuah rincian pada kalimat, jika unsur pertama menggunakan verba, unsur-unsur rincian lainnya harus menggunakan verba.
4. Kehematan → Kalimat yang hemat, tidak berlebihan, namun strukturnya tetap benar. Kehematan dalam kalimat efektif mengandung arti tidak memakai kata-kata mubazir atau tidak menjamakkan kata yang sebenarnya sudah menunjukkan makna jamak.
5. Kelogisan → Masuk akal atau yang dapat diterima sesuai dengan penalaran. Suatu kalimat dapat dikatakan lemah maknanya jika tidak logis meskipun sudah benar struktur, pemakaian tanda baca, kata maupun frasanya.
6. Kecermatan → Ketepatan pemilihan kata dan penyusunan struktur sehingga kalimat tersebut tidak menimbulkan tafsiran ganda (ambigu) atau multitafsir.
C. Ejaan
Ejaan adalah keseluruhan aturan atau kaidah yang mengatur bagaimana menggambarkan bunyi bahasa (kata, kalimat, dan sebagainya) ke dalam bentuk tulisan atau huruf, serta bagaimana menggunakan tanda baca.
1. Huruf Kapital
- Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan. Contoh: Bapak Koperasi, Jenderal Kancil, Otak Encer
- Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama dalam hal tertentu yang berkaitan dengan nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti Tuhan serta singkatan nama Tuhan. Contoh: Saya menganut agama Islam, Saya membaca Al-Qur'an, Tuhan Yang Maha Esa, Aku memohon kepada-Mu.
- Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, kebangsawanan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang dan gelar akademik yang mengikuti nama orang. Contoh: Saya seorang sarjana, Saya lulusan Sarjana Hukum
- Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Contoh: Ayahku bertemu Bupati Gowa, Ayahku bertemu Bupati Adnan Purichta Ichsan.
- Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama letak geografi yang diikuti nama diri dari tempat. Contoh: Saya berkunjung ke Pantai Bira, Komodo berasal dari Pulau Nusa Tenggara.
- Huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai nama jenis ditulis dengan huruf non kapital. Contoh: gula jawa, bika ambon, kunci inggris.
- Huruf kapital digunakan untuk nama geografi yang menyatakan asal daerah. Contoh: coto Makassar, nasi Padang, tarian Toraja.
- Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada nama bangsa, suku, bahasa, dan aksara. Contoh: bangsa Belanda, suku Mandar, bahasa Indonesia, aksara Makassar.
- Huruf kapital digunakan pada huruf pertama, seperti pada nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya. Contoh: hari Senin, hari Natal, bulan Mei, bulan Ramadhan.
- Huruf kapital digunakan pada unsur sapaan. Contoh: Kapan Anda tiba di Sulawesi? Selamat pagi, Ibu!
- Huruf kapital digunakan pada awal unsur penulisan judul, kecuali konjungsi dan preposisi. Contoh: Penelusuran Sumber Budaya di Kajang, Si Kancil yang Cerdik.
2. Huruf Miring
- Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul buku, judul film, judul album lagu, judul acara televisi, judul siniar, judul lakon, dan nama media massa yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka. Contoh: Ibu membaca buku Masakan Khas Sulawesi.
- Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat. Contoh: Jawaban yang benar di bawah ini yang benar, kecuali ....
- Huruf miring digunakan untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing. Contoh: Lockdown kembali diberlakukan.
3. Tanda Baca Koma (,)
- Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam perincian berupa kata, frasa, atau bilangan yang terdiri lebih dari dua. Contoh: Adik saya bernama Lala, Lili, dan Lulu.
- Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk pertentangan.
- Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat. Contoh: Ketika merasa lapar, saya akan makan.
- Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.
- Tanda baca koma digunakan sebelum perwatasan dalam kalimat, seperti yakni, yaitu, seperti, kecuali, misalnya, contohnya.
- Tanda koma digunakan di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) namatempat dan wilayah yang ditulis berurutan. Contoh: Akbar Sanjaya, Jalan Mustafa Dg Bunga, Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan Makassar, 7 Oktober 1998.
- Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi. Contoh: (1) Presiden RI, Soekarno, sedang mengikuti pertemuan diplomat; (2) Dayani, yang memakai sepatu berwarna hitam, akan mengikuti olimpiade tingkat kabupaten.
Latihan Soal TWK Bahasa Indonesia
Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengemukakan bahwa ikut serta badan usaha hanyalah sebatas membuat, mengelola, dan merawat sistemnya, sedangkan mekanisme kerja yang berhubungan dengan data harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi bocornya data tersebut.
Perbaikan kata bentukan yang salah pada kalimat tersebut adalah… (TWK 2021)
A. membuat seharusnya membuatkan
B. ikut serta seharusnya keikutsertaan
C. berhubungan seharusnya berhubung
D. mengemukakan seharusnnya dikemukakan
E. bocornya seharusnya dibocorkannya
Soal Nomor 2
______________________________
Sekian, semoga bermanfaat.
Materi sebelumnya: Peristiwa Sejarah
Komentar
Posting Komentar